Akhir-akhir ini sejak pemerintah Turki menembaki pesawat Rusia yang melintasi jalur udara perbatasan Turki dan Suriah menjadikan konflik antara dua kubu negara tersebut.
Rusia mengecam atas tindakan pemerintah Turki atas insiden tembakan pesawat milik Rusia. Rusia menyebutkan kalau pesawat tersebut masi melintasi wilayah Suriah.
Turki membantah atas pernyataan Rusia kalau pesawat tersebut masi melintasi kawasan Suriah.
Dengan kejadian atas penembakan pesawat milik Rusia, menimbulkan ketegangan antara kedua negara tersebut, ini terbukti bahwa Amerika Serikat dan NATO, atas permintaan Turki untuk menggelar pertemuan luar biasa untuk membahas kejadian tersebut.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan, Rusia telah banyak menuding dan mengancam atas negara kami. Seperti, mempersulit Rusia untuk menyerang teroris ISIS di suriah, Rusia juga memboikot produk-produk Turki, menangguhkan perjalanan bebeas visa, dan Rusia juga mempersiapkan sanksi ekonomi yang lebih luas terhadap negara Turki.
Dengan serangan balik yang dilakukan oleh Rusia terhadap Turki dengan senjata ekonomi, ini membuat Erdogan presiden Turki down, bagaimana tidak, dengan tindakan tersebut membuat pengaruh besar terhadap perekonomian Turki. Padahal awal pekan ini, Erdogan mengecam Rusia telah bermain api, dan Turki siap berperang terhadap siapapun yang melanggar kedaulatan negaranya.
Presiden Rusia Vladimir Putin yang baru-baru ini juga mengungkapkan, pihaknya telah mengantongi informasi jika ISIS telah berhasil mengirimkan sejumlah minyak mentah dari kilang-kilang minyak yang dikuasai Kelompok ISIS ke Turki, sehingga Turki dan NATO menikmati hasil minyak ilegal dari ISIS untuk mendapatkan keuntungan besar.
"Kami mempunyai bukti jika Turki melakukan perdagangan minyak ilegal dengan ISIS di wilayahnya. Dan Turki kemudian menjualnya ke negara lain," kata Galuzin dalam jumpa persnya di Kedubes Rusia, Jakarta, Rabu (25/11/2015). (Dly)


No comments: