Beruang Rusia Kembali Menjadi Negara Pengontrol Dunia
Rusia kembali menjadi peran aktif sebagai negara pengontrol dunia dan mendukung revolusi yang drafnya disusun oleh Prancis, dimana semua negara dimintak untuk bergabung dalam memerangi ISIS di Suriah dan Irak.
Rusia mendukung usulan Perancis, revolusi yang isinya meminta semua negara anggota DK-PBB untuk melaksanakan semua langkah serta mengintensifkan upaya orang-orang asing yang ingin bergabung dengan ISIS, mencegah pendanaan teroris, dan melakukan upaya yang diperlukan dalam kerangka mengontrol ISIS di Suriah dan Irak sesuai dengan kemampuan masing-masing negara anggota.
Rusia juga menawarkan teks draf sebuah revolusi lain yang telah direvisi kepada DK-PBB, dimana isinya revolusi tersebut meminta negara-negara yang ingin memerangi ISIS di Suriah dan Irak unuk meminta izin dari pemerintah Damaskus.
Namun Amerika Serikat dan NATO menolak draf usulan Rusia dan tidak setuju untuk bekerjasama dengan pemerintah Damaskus dalam memerangi ISIS di Suriah.
Ketidakjujuran Barat dalam memerangi ISIS tampak jelas menyusul dimulainya serangan militer Rusia terhadap oposisi ISIS di Suriah. Sebab, operasi militer Rusia yang baru berlangsung hanya beberapa hari telah mencapai banyak prestasi gemilang yang tidak dicapai oleh Koalisi Internasional Anti-ISIS pimpinan AS.
Meski Barat selalu menekankan pembentukan koalisi termasuk partisipasi Rusia dalam memerangi ISIS, namun Moskow menyadari ketidakjujuran langkah tersebut. Pasalnya, Barat tidak melakukan tindakan nyata dalam klaim-klaimnya.
Dengan demikian dapat diprediksi bahwa Barat memulai tindakan kolektif untuk memerangi ISIS bukan karena ingin memberantas kelompok teroris ini dengan serius namun hanya untuk melindungi kepentingannya sendiri. (Dly)


No comments: